Cinta Sejatiku ( No Sex )

•Februari 28, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Seperti biasa setelah pulang kerja, kutelusuri trotoar jalan dan melewati depan supermarket di kotaku yang masih dalam wilayah propinsi Jawa Tengah, lalu lalang mobil serta debu yang berterbangan mewarnai perjalananku, apalagi asap knalpot kendaraaan yang mencemari udara tak membuat keceriaanku berkurang walau sedari pagi aku terlalu capek dengan rutinitas kerja yang telah kulakukan. Aku mampir ketempat Game kegemaranku sebelum aku pulang, setelah asik menghilangkan penat dari semua pekerjaan, aku pun kembali beranjak menelusuri trotoar menuju rumah tinggalku, tampak olehku seorang pemuda yang tampan sedang asyik ngobrol bersama pedagang kaki lima di perempatan jalan, sempat mengusik mataku kala itu, aku tetap berlalu, tak menghiraukan lagi wajah lelaki yang sempat aku kagumi tadi, dari kejauhan tak begitu tampak lagi wajah tampannya, hanya samar samar dan akhirnya hilang ditelan belokan gang menuju perkampunganku.

Rutinitas pulang kerja aku lakukan tiap sore, seperti biasa aku maen Game kegemaranku, dan pulang menelusuri trotoar menuju kampungku, aku sempat tertegun melihat lagi sosok seorang lelaki yang kemaren sore aku lihat di perempatan jalan, hari inipun aku melihat kejadian yang sama dan hari hari berikutnya, mungkinkah ini jodohku, fikirku.

Aku mendapatkan sebuah kesempatan untuk mengikuti kursus komputer pada sebuah lembaga pendidikan di kotaku dengan di biayai oleh perusahaan tempatku bekerja, jadwalnya pun malam hari jadi tak merepotkanku, hal ini bisa menambah kesibukanku dari kegiatan yang ga manfaat. Akupun mempersiapkan diri untuk memulai awal pelajaran dan setiap peserta diharuskan mendaftar ulang, aku masuk ke bagian tata usaha lembaga pendidikan itu dengan membawa persyaratan lengkap sebagai murid baru, aku menemui petugas yang menerima pendaftaran ulang sambil menyerahkan segala persyaratan yang telah kupersiapkan, ” mbak minta kertas hvs satu, boleh?” suara seorang lelaki memecahkan percakapanku dengan mbak petugas pendaftaran itu, sebel juga sih karena aku merasa terganggu, jantungku berdebar ketika aku menoleh ke arah lelaki yang berada di sebelahku, “ya ampun, inikan lelaki yang sering aku lihat di perempatan jalan, kok bisa-bisanya daftar bareng kursus di tempat yang sama, ” gumamku dalam hati, secara aku juga belum kenal, aku ga berani menyapa, biarlah mengalir sendiri bagai air, awal pelajaran pun dimulai, aku mengambil duduk di bangku belakang lelaki itu agar aku lebih bisa mengenalnya, seorang guru pengajarpun memulai pelajaran dengan memperkenalkan diri, satu persatu nama kami disebut, sampai pada sebuah nama disebutka” Dewa….!” lelaki itu meninggikan jari telunjuknya, yang berari dia yang mempunyai nama itu.”Oooo…Dewa tho namanya….bagus juga ya seganteng orangnya”pikirku. Seminggu tiga kali aku hadir pada pelajaran itu dan tak pernah kulewatkan, karena aku memang mengharapkan pertemuan ku walau sebatas memandang,

Malam ini aku ga berangkat kursus, aku jalan-jalan ke tempat game biasa aku maen sepulang kerja, banyak permainan yang aku suka, diantaranya jackpot yang berhadiah kupon dan dapat ditukar coin, wah asyik bgt permainan itu, entah sudah berapa coin aku habiskan di permainan yang satu ini, sampai coin yang aku pegang lama kelamaan tinggal satu, aku akhiri permainan dengan coin terakhir, akupun kecewa karena hari ini tidak satupun kupon yang aku dapatkan, aku beranjak dari permainan jackpot dan menuju ke pintu keluar, ada sekilas bayangan seseorang yang aku kenal, dewa, ya benar dewa, lelaki yang aku lihat di perempatan dan sekarang menjadi teman kursusku, dia keluar dari arena game itu juga, mau kemana dia, fikirku, dari jauh aku membuntutinya, akhirnya sampai pada loket bioskop, dan beranjak meninggalkan loket menuju pintu masuk, aku segera menghampiri loket dan berbasa basi ke penjaga loket, ” mbak, barusan temenku ambil kursi nomer berapa, ” tanyaku, “oo….mas yang barusan?….ambil D18….mas mau no berapa,” jawab mbak petugasnya sambil menjelaskan pertanyaanku, ” D17 aja deh mbak, biar bareng….”jawabku. Akupun mulai melangkah meninggalkan loket dan menuju pintu masuk bioskop dan mencari-cari no urut yang tertera di karcis, samar-samar kulihat bayangan yang sudah akrab aku kenal, iya bayangan wajah dewa, tapi agak kurang jelas karena lampu telah dimatikan dan filmpun mulai diputar, aku duduk disamping Dewa, wah kesempatan banget buat kenal dia lebih dekat, aku mulai berbasa-basi menawarkan permen kepada seseorang yang tak kukenal yang duduk disebelah kiriku, “permen mas….?”aku mulai menawarkan, “oh…makasih, ga mas,”jawabnya, aku menoleh ke kanan dan kutawarkan lagi,”permen mas…..”tanyaku,”makasih…, ga mas…”jawab dewa” kamu dewa kan….?” tanyaku pura pura kaget, “iya…..kamu siapa”jawab dia kebingungan, “aku deny temen kursusmu,”jawabku berusaha meyakinkan dia, “o…ya…sory aku agak lupa, “jawabnya sambil tersenyum manis, “o…ga pa pa….namanya juga baru mulai kursus….belum pada kenal…”jawabku, akhirnya kami berjawab tangan dan berbasa-basi sambil menikmati film yang ditampilkan, aku pulang bersama dewa dan keluar dari pintu bioskop menuruni anak tangga menuju pintu keluar bioskop, aku kaget, panas dingin dan deg-degan kala dia merangkulkan tangannya dipundakku, “kamu bisa maen bilyard….”tanyanya, “dengan masih menahan rasa deg-degan dijantungku, aku menjawab ” aku ga bisa”, “aku ajarin….mau ga”bujuknya, “oke deh….”jawabku, daripada aku pulang, dan kesempatan indah ini aku lewatkan akhirnya kami menuju tempat bilyard yang berada disebelah bioskop, dengan sabar dia mengajariku, menawarkan minum dan membayar bon yang di ajukan penjaga bilyard, wah sungguh malam yang tak bisa kubayangkan sebelumnya, begitu indah, impian untuk dekat dengan pemuda yang aku idamkan, menjadi kenyataan.

Hari-hariku menjadi indah, penuh warna, kami semakin dekat, akupun tau tempat dimana dia bekerja sebagai sales marketing motor di kotaku, kostnya dan semua yang tadinya tak kuketahui tentang dia akhirnya aku mengetahuinya, pertemanan kami sangat akrab, kami selalu berangkat dan pulang bersama saat kursus, kadang aku yang jemput dia, atau dia yang jemput aku, pulang kursus biasanya kami makan bersam di warung makan lesehan langganan kami, sambil ngobrol ngalor ngidul menghabiskan malam, kadang dia yang bayar, kadang gantian aku yang bayar, habis makan biasanya kami ngelanjutin ngobrol di depan kost dia, wahhh….indah rasanya, terkadang dari pebincangan kami, banyak terjadi perbedaan pendapat yang mengakibatkan kami salah paham dan membuat aku kesal, dia banyak memberi kritik kepadaku, kadang aku tak terima mendapatkan kritik dari dia, akhirnya aku ngambek dan pulang dengan perasaan dongkol, tapi besoknya akrab lagi, dan hal itu sudah menjadi santapan kami setiap kali kami bertemu, bahkan bila sehari tak berantem kangen rasanya, terkadang dia juga perhatian banget sama aku, menasehatiku dan hingga membuat aku terbuai oleh nasehat-nasehatnya.

Di tempat kursus aku juga mempunyai temen cewek yang deket dengan kami berdua, kadang pas hari minggu kami mengajak mereka jalan bareng, Aku sama Lia, dan Dewa sama Arum, dan wajah mereka bisa di bilang cantik, dari sikap Arum kelihatan kalo Arum suka ama Dewa, sedangkan Dewa juga naksir sama Arum, aku sendiri lebih dekat sama Lia, dengan kedekatan kami membuat kami tambah mengenal satu sama lain, sampai akhirnya Lia menyatakan cinta kepadaku, Ohh….My God……, sebenarnya aku naksir sama Lia karena kecantikan wajahnya, tapi kami berbeda keyakinan, tapi sebenarnya aku juga suka dan sayang dengan Dewa……, aku bingung, akhirnya aku putuskan untuk bersahabat dengan Lia, dengan berbagai penjelasan dan segala argumen aku menjawab pertanyaan Lia, perbedaan keyakinan yang menjadi alasanku utamaku, padahal dalam hati aku lebih memilih Dewa daripada Lia.

Hari-hariku indah sejak bersama dewa, lambat laun aku mulai merasakan getar-getar cinta, aneh memang, tapi itu yang kurasakan sesungguhnya, aku sembunyikan perasaan itu dari dewa, aku tak mau hubungan yang kujalin dengannya akan menjadi renggang, biarlah aku mencintai dia bertepuk sebelah tangan, daripada aku harus kehilangan kebersamaan bersamanya, waktu luang sering kami gunakan bersama, kadang kami berboncengan bersama, ada perasaan aneh ketika aku di boncengnya, kebahagiaan yang luar biasa, “I….love….you…..dewa…..!!!!”rasanya aku ingin berteriak sekeras-kerasnya agar semua orang tau aku sangat bahagia, tapi semua itu tak kulakukan, aku takut dia histeris mendengarnya dan meninggalkannku, aku belum siap dengan semua itu, terkadang ketika aku dibonceng kendaraannya aku merasakan rangsangan di sekitar seangkanganku, Aneh memang aneh, itulah kenyataannya, ketika dia menyakiti perasaanku, kadang aku menangis meratapinya, tapi aku tak mampu bercerita tentang keadaan ini, biar semua ini aku tanggung, asal dia tak jauh dariku, karena kedekatan itu satu-satunya yang membuat hidupku bahagia.

Hari ini begitu indah, dewa begitu baik denganku, tak biasanya pemikiran kami sejalan, tak biasanya kalo tak ada perpedaan pendapat dalam obrolan kami, tak biasanya dia bersikap manis dan membuat aku begitu bahagia, ada apa dengan Dewa ? pikirku dalam hati, aku merasa ada kejanggalan, aku merasa ada ketidak beresan, ada apa dengan semua ini, sampai akhirnya dalam obrolan kami dewa berpamitan kepadaku untuk kembali kekotanya karena alasan pekerjaan, dan setauku waktu itu perasaan dia juga kecewa dengan kekasihnya satu kerjaan yang akan menikah dengan pria lain, mungkin itu alasan yang paling dapat diterima oleh akal sehatku, hatiku hancur kala itu, aku tak sanggup membendung perasaan sedih yang ada dalam hatiku, tapi aku tak kuasa untuk mengutarakannya, “kapan kamu pulang ke Jawa Timur ? ” tanyaku bersikap tabah, ” mungkin minggu depan….., aku masih membereskan urusan pekerjaan yang belum selesai…….” jawabnya dengan mantap, “terus bagaimana dengan ijazah kursus yang belum kamu terima….?” tanyaku menyusul, “kalo kamu bersedia aku minta kamu untuk mengambilkannya,” dia memohon kepadaku,” ya…udah nanti aku yang mengambilnya, sekalian aku kirim ke alamatku” jawabku meyakinkan dia” makasih ya….den” walau aku terlihat tabah sebenarnya hatiku hancur, disaat kebahagiaan yang aku rasakan atas perubahan sikap dia yang terlalu baik kepadaku, kini aku juga harus menerima kenyataan dia harus meninggalkanku, aku tak punya hak untuk mencegahnya, aku bukan siapa-siapa, aku bukan kekasih dia, serasa hidupku merasakan kehampaan, aku takut menghadapi waktu yang semakin dekat saat dia akan menginggalkanku, badanku serasa lemas, aku kurang konsentrasi dalam kerjaku, aku tak sanggup menghadapi semua ini.

Tiba waktu malam sebelum kita berpisah, dia begitu baik, dia begitu lembut, dia begitu pengertian, aku hanya bisa mendengarkan pesan-pesan yang dia sampaikan kepadaku, aku masih belum bisa menerima kenyataan ini, begitu sakit perasaan ini, “bukan hanya yang ditinggalkan yang merasa sedih, tapi yang meninggalkan juga merasa sedih” dia memberi pengertian kepadaku, saat itu aku sebenarnya ingin menangis, ingin memeluknya untuk terakhir kali, aku ingin mengungkapkan persaanku yang sangat hancur, tapi tak kulakukan, aku menjadi orang munafik yang tak sanggup membela isi hatiku sendiri, aku pulang dengan perasaan sedih, aku tak sanggup menghadapi esok hari saat dia meninggalkanku. Pagi itu aku membantu dia mengepak barang yang akan dibawa pulang, walau berat hati aku merasa sabar dan tabah, walau hati hancur aku tetap bersikap kuat, saat aku mulai menata barang-barang, dewa berdiri menghampiriku, dengan membawa seuntai kalung berwarna putih perak, dia mengalungkan benda itu di leherku, “kalung ini buat kamu……”katanya sambil memakaikan kalung itu, aku ingin menangis, tapi tak bisa, berikutnya dia juga memberiku bahan baju yang dulu kami beli bersama yang belum sempat dia jahitkan, sebuah jam pembangun tidur, sebenarnya aku ingin menolaknya, tapi aku tak mampu, aku tak ingin semua ini, aku hanya ingin kebersamaan kita, itu yang terbesit dalam batinku, aku hanya menahan tangisku, waktu berjalan begitu cepat menghampiri saat saat perpisahaan itu, kulihat jam dinding menunjukkan waktu kurang seperempat jam sebelum dia berangkat, ada sebuah deru motor menghampiri kost dewa, kami berdua keluar dari kamar kost, dan menuju pintu depan, kulihat seorang perempuan dan lelaki yang datang, aku pastikan itu kekasih dewa, kemudian dewa mempersilahkan mereka masuk, sang wanita tak kuasa menahan tangis dan memeluk dewa, dewa dan kekasihnya saling berciuman melepas kesedihan yang sangat, seandainya semua itu sangut aku lakukan, semua itu mungkin dapat mengobati sedikit kesedian saat ditinggalkannya, tapi semua itu tak mungkin aku lakukan, saat perpisahanpun begitu dekatnya, aku tak kuasa melepaskannya, aku tak mengantar dia pulang ke terminal bus, aku berpamitan, dewa diantar teman sekerjanya menuju tempat pemberangkatan bus, aku pulang dengan hati hancur.

Enam bulan sudah aku hidup dalam kehampaan tanpa kehadiran dewa, tanpa canda, tanpa obrolan, tanpa kebahagiaan di hatiku, sedih menyelimuti perjalan hidupku, enam bulan sudah hatiku galau, memikirkan dia, enam bulan sudah aku dibayang-bayangi sosok lelaki pujaan hatiku, aku benar-benar telah larut dalam derita karena mencintai, terkadang kenangan muncul yang membuat hatiku teriris, kala melewati tempat yang dulu pernah kami lalui bersama. Aku mendengar deru motor GL Pro yang parkir di depan rumahku, aku segera berlari keluar rumah menghampiri arah deru motor yang sempat mengagetkanku,”Dewa….ya..dewa…datang”aku sangat bahagia membayangkan kedatangan dewa di rumahku, tapi yang kutemui adalah kekecewaan, tak kutemui sosok yang kurindukan kehadirannya, aku berlari memasuki kamar, meratapi rasa rindu yang tak bisa kutahan. begitulah yang kurasakan selama enam bulan terakhir ini, aku begitu kehilangan sosok dewa yang sangat aku dambakan kehadirannya.

Aku tak kuat menahan rasa rindu yang begitu menyiksaku, aku putuskan untuk menemuinya, aku berencana pergi ke tempat tinggal dewa yang jaraknya sangat jauh dari kotaku, tekadku yang bulat membuatku tak berkecil hati, dengan cuma bermodalkan alamat aku memberanikan diri untuk menyusulnya, aku mempersiapkan diri untuk berangkat, kubawa sebuah lukisan yang aku buat oleh goresan tanganku sendiri dan kubingkai oleh pigura yang berukuran 60 x 100 cm, memang sedikit merepotkanku, aku yang hanya bermodal alamat, tanpa pernah punya pengalama bepergian ke Jawa Timur, memberanikan diri untuk menaiki bus yang menuju ke kotanya, perjalanan yang jauh tak kuhiraukan, badan yang terasa penat oleh desakan penumpang aku abaikan, aku hanya punya satu tujuan, aku ingin menemukan kembali cintaku yang telah pergi, aku mencari kebahagiaanku, aku sampai setelah naik turun kendaraan yang mengantarku menuju rumahnya, kupastikan alamat dewa yang aku tuliskan pada secarik kertas, aku memberanikan masuk ke halaman rumah yang tetulis di alamat itu, kulihat sosok seorang lelaki yang sedang membenahi halaman rumahnya dengan serok pasir dan semen di tangannya, aku bergegas menghampirinya,”wa….dewa!!”aku memangil dengan sangat antusiah, tak kuhiraukan sekitarku, aku dekap tubuh dewa, dewa hanya pasrah menghadapi kelakuanku, sementara tangannya masih memegang serok semen dan tak membalas dekapanku, seakan aku menemukan kebahagiaanku kembali, “heh….Den….kamu kok bisa sampai sini……ceritanya gimana?”sapa dia dengan nada keheranan bercampur kegembiraan, perasaanku kala itu tak dapat kubayangkan, aku begitu bahagia, aku kembali menemukan cinta yang telah lama pergi, “ga usah tau ceritanya….yang penting aku dah sampai sini…”jawabku dengan menutupi kerinduan yang tak terbendung dalam hati, “Wa…aku bawakan lukisan buat kamu, ga tau bagus atau ga”kataku sambil menyerahkan bingkisan yang berisikan pigura dengan gambar lukisa wajah dewa didalamnya, dewa sangat senang dan segera membuka bingkisan itu, “Wah bagus kok den,….siapa yang lukis?”tanya dewa, “Aku yang lukis sendiri”jawabku, kemudian dewa beranjak menuju kamarnya dan memasang pada dinding kamarnya, dipandanginya lukisan itu,”Wa…aku pengen jalan-jalan di kotamu, aku pengen ke Obyek wisata Sarangan….antar aku ya”pintaku pada dewa, dewa mengiyakan permintaanku dengan senag hati”Ya….ntar aku antar……tapi aku lagi ga da uang,”kata dewa”Ga usah dipikirin…….aku kesini ga minta duit kok, ketemu kamu aja aku udah seneng” jawabku menegaskan. Siangnya kami menuju obyek wisata yang ingin aku kunjungi, dengan mengendarai Vespa kami berdua menyusuri perbukitan yang menuju arah obyek wisata Sarangan, bahagia sekali rasanya, sesampaikanya di sana kami berdua ngobrol melepaskan kerinduanku yang selama ini aku pendam, waktu begitu cepat berlalu hingga menjelang sore kamipun pulang menyusuri jalan yang menurun, terkadang dalam perjalananku dewa sempat menggodaku dengan melepaskan pegangan kemudinya, aku sangat ketakukan, apalagi di depan kami ada sebuah truk,”jangan gila donk….wa, aku masih pengen hidup” teriakku, kebahagian begitu menyertaiku selama perjalanan itu, sampai dirumah dewa, akupun tidur dengan lelapnya mengkin karena capek bepergian, sedang dewa asyik bermain volly dengan teman sekampungnya sore itu meninggalkan aku yang terlelap tidur, mungkin dia tak tega melihatku kecapean, “den udah mau magrib….bangun dong”dewa membangunkanku dengan pelan, tak terasa waktu pun beranjak malam, aku menghabiskan malam dengan banyak ngobrol tentang keadaan dia, hingga waktu telah larut, badanku menggigil menahan udara yang sangat dingin, maklum di dataran tinggi, kami pun beranjak tidur di kamar dewa, kami tidur berdua, aku sangat terlelap tidur, sampai akhirnya pagi pun menyongsong kami, membangunkanku untuk beranjak melakukan aktifitas pagi ini, “Wa…..aku nanti jam 10 siang mau pulang, “aku megutarakan maksudku untuk berpamitan pulang, ” lho kok cuma sebentar disini…ga betah ya” tanya dewa”gak..wa, besok aku harus kerja, aku makasih kamu dah nganter jalan2 di kotamu,”jawabku, sebenarnya aku tak ingin berpisah lagi dengan dewa, tapi tuntutan pekerjaan mengharuskan aku pulang, dewa mengantarku pulang di menunggu bus yang akan menuju ke terminal, perasaan bahagia bercampur sedih bersemayam didadaku, aku sedih meninggalkan kota ini, saat dewa melambaikan tangannya, ada kekecewaan dalam hatiku, aku tak ingin berpisah dengannya, hanya foto dewa yang kubawa sebagai kenangan dari dewa.

Rasa rindu yang begitu dalam, berangsur terobati sejak aku bertemu dewa, aku dapat melangkahkan hidupku kembali dengan beban yang tidak terlalu beran, kujalani hari hariku tanpa dewa disampingku, biarlah dia menempuh cita-citanya, akupun harus melanjutkan citacitaku, aku berkirim surat kepada dewa untuk menanyakan keadaannya, karena saat itu dewa tak memiliki alat komunikasi untuk dihubungi dan sarana telekomunikasi belum secanggih jaman sekarang, belum ada telepon selular, satu bulan aku tunggu surat jawaban dari dewa, 2 bulan dan bulan bulan berikutnya, tanpa kabar tanpa berita, aku merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya, ada apa dengan dewa, hatiku sedih, hatiku gundah, hatiku hancur, aku kehilangan cintaku yang kedua kali, aku berharap dewa kembali ke pekalongan untuk menemuiku, hari-hariku dihantui bayangan dewa, hatiku meratap merindukan kembali kehadiran dewa, aku hanya berdoa memohon kepada Tuhan untuk mengembalikan dewa kepadaku seandainya itu baik untukku dan jawaban atas segala pertanyaanku, aku menangis menanti kedatangannya, aku tak ingin ke kotanya, biarlah Tuhan yang akan memutuskan jawaban atas kegalauan hatiku, aku pasrah atas penderitaaanku, dua tahun lamanya aku hidup dalam kehampaan, meratapi kehilangan seorang yang sangat aku kagumi dan aku sayangi, aku merasakan kesunyian, perasaanku menjadi sentimentil setiap mendengar lagu yang dinyanyikan didi kempot.

Sewu kuto uwes tak lewati…..

Sewu ati tak takoni…….

Nanging kabeh podo ra ngerteni……

Lungamu nang endi…….

Pirang taun anggonku ngoleki…..

Seprene durung biso nemoni…..

Wes tak cobo ngaleake, tresnomu soko atiku,

sak temene aku ora ngapusi, isih trisno sliramu,

Umpamae kowe uwis mulyo, lilo aku lilo…..

Yo mung siji dadi panyuwunku…….

Aku pengen ketemu…….

Senajan wektu mong sedelo tak nggo tombo kangen jeroning dodo

Senajan sak kedepe moto tak nggo tombo kangen jroning dodo

itulah syair yang membuat ahatiku miris, kadang aku ingin menangis mendengarnya, kadang dadaku sesak mendengarnya.

“Ya…Allah… mungkinkan ini cobaan atas rasa cintaku yang salah terhadap sesama jenis, mungkinkah aku dapat bertemu kembali padanya, ataukan ini jalanMu agar aku mengerti arti kehidupanku, ataukan ini takdirMu, aku hanya mencintai, salahkah aku mencintai? Ya….Allah….seandainya semua ini baik untukku pertemukan aku dengan dewa, untuk menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang terbaik buatku, Ya… Allah kabulkankan doaku,…….kabulkanlah…..berikan petunjukMu….”

Itulah sebait doa yang selalu kupanjatkan kepadaNya atas penderitaan yang aku alami, aku hanya pasrah, berdoa dan berdoa, aku yakin suatu saat Allah mengabulkan doaku, selama dua tahun ini pula aku menyimpan rahasia dan penderitaanku kepada keluarga dan teman-temanku, aku merasakan kepedihan seorang diri tanpa seorangpun yang mengetahuinya, Aku hanya berbicara kepada Tuhanku….yaitu…Allah Yang Maha Mengetahui isi hati manusia, pada saat aku sendiri, saat aku berjalan, saat aku teringat dewa, semuanya kupasrahkan dan kukembalikan kepadaNya, aku hanya menunggu dan menunggu………

“kringgg….kringggg….kringgg…”bunyi telpon terdengar di meja operator, “Den, ada telpon di Line 1 buat kamu,” kata petugas operator telpon menghampiriku yang sedang menemui relasi perusahaan tempatku bekerja, “Dari siapa mbak…..aku ada tamu” jawabku sambil menunjukkan keadaan yang memang saat itu sangat sibuk, “Dari Dewa..”jawab operator itu kembali, badanku serasa gemetar mendengar dari orerator telpon tadi, aku seperti disambar gledek, saat-saat yang aku tunggu datang menghampiriku, aku berpamitan sebentar untuk menerima telpon pada tamuku, tanganku gemetar mengambil gagang telpon di mejaku, benarkah dewa menelponku, aku bertanya-tanya dalam hati, aku jawab telpon yang sedari tadi menunggu ” Halloooo……” belum sempat aku melanjutkan pembicaraanku, ” Den….aku dewa, aku lagi disini…..jemput aku ya, aku di wartel jalan hayam wuruk….”suara dari telpon kudengar jelas bahwa itu dewa, aku merasakan kegembiraan yang sangat, mulutku gemetar, aku tak bisa menjawab permintaan dewa, aku masih tidak menyadari semua ini “iya…..”jawabku”tapi aku masih ada tamu, sebentar lagi aku kesana….”kebetulan memang jam akhir pulang kantor, agak lama dewa menungguku pulang dari kerjaku, aku langsung menuju tempat yang dewa maksud, aku sangat bahagia , inikah jawaban atas doa-doaku, aku menemui dewa dengan wajah yang berbinar-binar, kulihat senyuman di wajah dewa, senyuman yang sudah dua tahun tak pernah kulihat dan sangat aku rindukan, “gimana kabarmu…wa”sapaku memulai pembicaraan”baik…”jawab dewa, “den, aku diterima kerja di kota ini lagi, aku akan pindah ke kota ini lagi, tapi aku bukan sebagai sales marketing lagi, aku sekarang kerja sebagai Ofiice Boy di sebuah agen asuransi” aku kaget mendengarnya, antara percaya dan tidak doa-doa yang selama ini aku panjatkan ternyata dikabulkan oleh Allah, terima kasih aku panjatkan kepadaNya, bahkan pemintaanku yang hanya ingin dipertemukan kepada dewa dibalas olehNya dengan berlebih, dewa akan tinggal di kota ini, aku tak bisa membayangkan kebahagiaanku saat itu, “Yang penting pekerjaan itu halal, manusia kadang diatas, kadang dibawah….yang penting iklas menerimanya”jawabku, aku tak pernah menyangka tuhan punya rencana yang indah buatku, aku sangat berterima kasih padaNya, atas jawaban dari doa-doaku, akupun seakan menemukan kebahagiaan walau dewa sekarang sebagai office boy aku tak menghiraukannya, aku menerima dia apa adanya, bertemu saja aku sudah bersyukur, aku justru menghawatirkan dia, apakah mentalnya siap untuk menerima pekerjaan yang jauh dari pekerjaan yang dulu dia lakukan, sedangkan dia sendiri memintaku untuk tak menceritakan hal ini kepada teman-temannya dulu, jauh sekali perbedaannya, tapi aku siap memberikan semagat kepadanya, kadang aku menghibur dia dengan mengajak kemanapun dia inginkan karena dia tinggal sendiri dalam ruko, aku tak ingin dewa merasa sedih, aku sedih kalau sampai dewa di sini sampai tak bahagia, karena aku merasa aku telah membawa dia kembali ke kotaku karena doa-doaku yang telah aku mohonkan kepadaNya, aku berusaha membuat dia bahagia, kadang dewa bercerita tentang kesendiriannya, kadang dewa bercerita tentang pekerjaannya, kadang dewa bercerita tentang keterpurukannya, aku hanya berusaha menjadi teman yang setia dan mau mengerti keadaannya, kadang aku ajak dewa untuk menghadiri acara teman-teman di perusahaanku, kadang kami rekreasi ke obyek wisata untuk melepas kepenatan, kadang kami bakar ikan bersama teman-temanku sekerja, tapi dewa bilang kalo temanku ga asyik, sebenarnya hatiku sakit mendengarnya, aku hanya berniat menghapuskan kesunyian dia dengan mengajaknya ke teman-temanku, tapi biarlah aku pendam kekecewaanku. Kami mempunyai teman seorang penjaga wartel, di wartel itu biasanya kami ngumpul, menghabiskan waktu untuk mengisi kesendirian dewa, sampai akhirnya dewa berniat membeli sebuah sepeda motor butut, aku bantu mengantar dewa untuk memodifikasi motor tersebut, aku setia untuk menemani dia, aku berusaha membantu sebisa aku lakukan, aku tak ingin mengecewakan dia. Saat-saat itu membuat aku semakin sayang sama dewa, aku tak sanggup lagi menahan perasaan itu, aku tak kuasa membendungnya, aku beranikan diri untuk mengungkapkan perasaanku kepada dewa melalui secarik kertas yang berisi tentang rasa sayangku kepadanya, kuberanikan diri untuk memberikannya, dewa menerimanya, keesokan harinya setelah kuberikan surat cintaku, aku tanyakan kepada dewa, ” wa….dah baca tulisanku…?” tanyaku was-was.”Sudah tak buang….”jawabnya, perasaanku kala itu sakit sekali aku tak menyangka jawwaban dewa seperti itu, “wa….itulah keadaanku yang sebenarnya..”aku meneruskan perbincanganku,”itu adalah hidupmu….., dan aku adalah aku, itu urusanmu….”jawabnya dengan nada tinggi, betapa hancur hatiku kala itu, sebenarnya aku bukan mengharapkan balasan cinta atas suratku, aku hanya ingin dewa mengerti keadaanku, dan apa yang terjadi selama ini denganku, tapi lain yang aku terima dari dewa, aku berusaha menjelaskan semuanya, tapi sekan dia tak memperdulikan ucapanku, hari-hari berikutnya aku berusaha bersikap wajar, dewapun begitu, tapi yang kurasakan seakan ada pembatas diantara kami, hubungan kami menjadi kaku, setiap kali aku ingin menjelaskan permaslahan ini, kami malah menjadi salah pahan, aku berusaha menerima keadaan ini, dan tidak memaksakan dewa untuk mengerti aku.

Malam itu dewa mengajakku untuk mencari rumah temannya, teman yang dulu dia kenal waktu dia menjadi sales motor, katanya dia adalah salah satu pelanggannya, dengan membonceng sepeda motorku, kami berdua mencari tempat yang dimaksud dewa, agak susah juga, karena masuk ke dalam gang yang agak sempit, dan kami belum pernah kesana, akhir tanya sana sini, kami sampai pada tempat yang kami tuju,dan kami ketuk pintunya, keluarlah seorang laki-laki yang lebih dewasa dariku, kami pun berkenalan, kami ngobrol di teras rumahnya, dewa begitu asyik ngobrol dengan dia, sedangkan aku diam mendengarkan pembicaraan mereka, mengapa hatiku seakan sakit melihat kedekatan mereka, aku hanya terdiam, aku cemburu melihat kedekatan mereka, aku khawatir dewa akan dekat dengannya dan melupakanku, itu yang ada dibenakku kala itu, hatiku serasa perih, ingin rasanya aku pulang meninggalkan mereka, itulah awal pertemuanku dengan edy teman dewa yang baru, awal pertemuan yang membuat hatiku terluka, hari-hari berikutnya aku mulai dihantui rasa cemburu, aku tak ingin ditinggalkan dewa. hubunganku semakin merenggang sejak dewa mengenal teman barunya, kadang dewa sulit aku hubungi, kadang dia banyak beralasan untuk aku ajak keluar, bahkan tanpa sepengetahuan dia aku sering membuntuti dia pergi dengan siapa, ternyata dia pergi dengan teman barunya, edy, hal ini membuat aku sangat cemburu dan menyakitkan perasaanku, kadang hal ini juga menggangu konsentrasiku, aku tak bersemangat lagi di pekerjaan, pikiranku hanya tertuju kepada dewa, aku tak kuat menahan semua ini, akhirnya aku berusaha menjelaskan semua ini kepada edi bahwa aku adalah teman dekatnya dewa dan aku merasa edy telah merebut dariku, edypun berusaha menjelaskannya kepada dewa dan ingin menjauhi dewa, tapi apa yang aku dapatkan dari perbuatanku itu, dewa marah, tidak seharusnya kau berbuat itu, dia tak mau aku mencampuri urusan dia dengan teman barunya, dia adalah dia, aku adalah aku, dan itu yang dewa tegaskan, hubungan kami lambat laun semakin jauh, dewa justru sering jelan dengan edy, bahkan aku tak pernah diajak jalan bareng dengan dewa pakai motor yang dulu kami berdua memodifikasinya, sedangkan edy kadang berdua mengendarainya, hatiku sakit sekali, seakan aku tak kuat menahan rasa sakit ini, banyak perubahan sikap yang aku rasakan dari dewa, bahkan dewa sering membandingkan aku dengan edy, betapa sakit hatiku, tapi aku tetap menahan perasaan sakit itu, seakan aku rela menahan penderitaanku demi dewa, aku berulang kali memaafkannya, atas rasa sakit yang aku terima, aku tak tau apakah dewa memang sengaja membuat hatiku hancur sehingga aku akan meninggalkannya, tapi semua itu tak aku lakukan, aku bertahan dengan penderitaan, aku buktikan bahwa aku benar-benar sayang kepadanya dan tak akan meninggalkannya, seburuk apapun dia aku tetap akan memaafkannya dan menerima dia apa adanya, kadang ada perasaan tidak iklas atas segala yang pernah aku usahakan dan apayang telah aku perbuat untuk membuatnya bahagia, ataukah aku yang tidak memahami apa yang dia inginkan, aku hanya berbuat karena apa yang aku rasakan, apakah aku salah?, aku sedikit demi sedikit menghindari pertemuan dengan dewa, aku belajar untuk menerima kenyataan apabila dewa meninggalkanku, aku berusa menjadi yang kedua, aku berusaha menjadi orang yang mengerti apa keinginanya, aku merelaan kedekatan mereka berdua, aku kadang mencari kesibukan dengan menghadiri pengajian-pengajian agar batinku tenang dan berusaha jauh darinya, tapi apa yang kurasakan, hatiku semakin sakit, semakin sakit dan semakin terpuruk, sampai akhirnya aku memutuskan untuk menikah, aku berusaha membuat pilihan untuk menuju ke jalan yang benar, memang salah satu tujuanku ingin mempunyai keturunan, tak hanya sekali aku berusaha menjalin ikatan untuk menuju kepernikahan, sampai akhirnya aku menemukan seorang wanita yang baik dan dia juga mempunyai tujuan yang baik, dan bersedia menuju ke pelaminan.

Keadanku masih seperti sedia kala, kadang aku masih berhubungan dengan dewa, walau tak sedekat dulu, dan aku memutuskan pindah tempat tinggal yang agak jauh dari rumah tinggal orang tuaku, aku ikut kakak kandung yang kebetulan sendirian bersama anaknya karena suaminya meninggal, hal ini aku lakukan karena untuk menghindah dan berusaha melupakan dewa, tapi kadang bayang itu masih hadir dalam hidupku dan membuatku sakit, hubunganku dengan dewa hambar, hanya sekedar basa-basi saja, kadang aku berusaha menghilangkan kesedihanku dengan berkumpul bersama teman-teman baruku di tempat kakakku, entah kenapa dewa akhirnya baik kepadaku, keadaan kami semakin membaik, sikap dewa berusaha baik kepadaku, apakah karena aku akan menikah, atau ada alasan lain? itu yang ada dibenakku, aku masih bertanya tanya dalam hati, sampai akhirnya dewa mengatakan bahwa dia akan pindah ke jakarta, karena perusahaan tempat dia bekerja, akan segera tutup, aku tak tau permasalahannya, kadang kami berdua jalan bersama dan menceritakan keadaan kami, aku yang akan melanjutkan hidup dengan pernikahanku yang sebentar lagi akan aku langsungkan, sedangkan dewa akan meninggalkanku setelah dua tahun dia bekerja dikotaku dan untuk yang kedua kalinya aku berpisah karena dia akan bekerja di jakarta, Memang Allah Maha Bijaksana dalam mengatur hidup manusia, aku pun merasakan hal itu, Allah memberikan jalan yang terbaik buatku, seandainya semuanya tak terjadi, aku mungkin akan merasakan sakit untuk yang kedua kalinya di tinggalkan dewa, tapi kali ini tidak, aku lebih ikhlas, aku lebih bisa menerima keputusan dariNya, mungkin ini yang terbaik buatku, mungkin ini jawaban dari doa-doaku dulu, agar Allah menunjukkan mana kebaikan dan mana keburukan bagiku, aku tetap melanjutkan tujuanku untuk melangsungkan pernikahanku, aku hanya berpesan pada dewa agar dia dapat mengantarku menuju jalan ke pernikahanku, tapi sebelum aku melangsungkan pernikahanku, dewa lebih dulu meninggalkanku untuk bekerja di jakarta, aku mengantarkannya ke pemberangkatan bus, kali ini aku ikhlas atas kepergiannya, dan waktu pernikahankupun semakin dekat, kepergian dewa membuat hubunganku dengan edy menjadi baik, edy sering mendengarkan keluh kesahku tentang dewa, aku dan edy menjadi akrab, sampai akhirnya pernikananku tiba.

Hari itu aku sangat bahagia, pernikahan yang aku niatkan untuk memperbaiki kehidupanku telah datang, aku merasakan kebahagiaan, banyak tamu undangan yang hadir, sahabat-sahabatku, sanak keluargaku, teman teman kerja dan relasiku, semua menghadiri undangan dan menikmati jamuan yang kami hidangkan, sedangkan alunan orgen tunggal mengiringi pernikahanku, Edy dan teman-temannyapun hadir dalam pestaku, dua orang temannya pun yang memang aku undang karean kedekatanku dengan mereka bersedia menyumbangkan lagu di pernikahanku, sebuah lagu dari Krisdayanti :

Mencintaimu……seumur hidupku…….selamanya…….ohh..cintaku….

Itulah sebait lagu yang membuat hatiku teriris, serasa lagu itu menjadi gambaran hidupku karena mencintai dewa, rasanya aku ingin menangis, tapi aku tahan, aku tak ingin pernikahanku menjadi ajang kesedihanku, hari ini aku harus bahagia, dan melupakan kesedihanku, dewa tak hadir dipernikahanku walau telah aku undang, mungkin karena jarak yang terlalu jauh atau memang dia sengaja agar aku tak merasakan sakit saat pernikahanku, aku menghormati tamu-tamuku sampai acara pernikahanku selesai, bulan madu bagi seorang sepasang pengantin tak mempunyai halangan bagi kami berdua, kamipun bahagia, setelah satu minggu dari pernikahan kami dewa menghubungi ku melalui telpon rumahku, dia memberikan alasan kenapa dia tak hadir dalam pernikahanku, jarak yang membuat dia tak dapat hadir mengiringi kebahagiaanku, aku menerimanya, toh aku sudah mempunyai kehidupan sendiri, hari hari berikutnya hubunganku dengan dewa hanya sebatas telpon dan menanyakan kabar, dan tak terlalu dekat, yang aku dengan sekarang dia juga telah melangsungkan pernikahan dan akan mempunyai momongan, sedangkan aku beserta istri dan anakku yang sekarang berusia 5 tahun mempunyai kehidupan sendiri dan bahagia, walau terkadang perasaan itu masih ada dalam hatiku dan bayang-bayang dia kadang hadir dalam ingatanku, tapi aku lebih memilih kebahagiaan keluargaku, biarlah cinta sejatiku aku berikan sedikit ruang untuk kusimpan dalam hatiku. sampai saat ini aku tetap menyayanginya dan tak melupakannya, biarlah menjadi kenangan hidup yang pernah hadir dalam kehidupanku.

•Februari 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Taubat

PANTASKAH SURGA BAGIKU

•Februari 21, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pantaskah bagi kaum kami mengharapkan surgaMu? sedangkan perbuatan keji telah kami lakukan dimasa lalu, pada hakikatnya kami telah mati dalam syariatMu, mati untuk menebus dosa-dosa yang pernah kami lakukan, apalagi aku, yang telah membina keluarga, seharusnya aku telah mengalami hukuman rajam sampai aku mati, tapi semua itu tidak dilakukan, seandainya aku hidup dalam suatu wilayah yang menjalankan syariat dengan benar, sudah pasti aku  menerima hukuman itu, dan saat ini pasti aku telah mati, tapi aku bersyukur, masih ada kesempatan diriku untuk bertobat dan memperbaiki diri,  dan sebelum kematian yang sesungguhnya datang dariMu, tapi apakah Engkau mau memaafkan ? sedangkan terdapat dosa sebesar gunung dalam jiwaku, dan Engkau telah melaknat perbuatanku dan kaum kami, pastaskah aku mengharapkan surgaMu? pantaskah aku bertemu denganMu ? sedangkan kematian itu pasti, dan aku tak tahu kedatangannya, masih sempatkah aku menutup dosa-dosa masa laluku, sebandingkah amalanku?, pantaskah aku mengharapkan surgamu Ya….Allah, pantaskah aku bertemu denganMu….Ya….Allah, apa yang harus aku lakukan untuk mencapai semua itu, apakah mungkin? dengan semua dosa-dosa di pundakku?……..berilah petunjukMu……Ya…Allah

Masa pencerahanku (6)

•Januari 26, 2009 • 1 Komentar

Dosa demi dosa yang telah aku lalui, membuat diriku dihantui rasa ketidak pastian, kenikmatan yang telah aku peroleh tak memberi kebahagiaan dalam kehidupanku, kehausan akan nafsu tak memberikan akhir, aku lelah, aku letih…………

Aku lelah mencari lelaki untuk memuaskan nafsuku yang tak ada akhirnya, aku letih untuk menuruti semua itu, pada suatu saat aku mencari-cari jawaban atas apa yang selama ini aku inginkan, ketenangan……itulah jawabku. aku berusaha mencari ketenangan hidup itu…., akupun mulai berusaha menyingkirkan sedikit demi sedikit kenikmatan itu, aku mulai mencari pencerahan, mulai mencari petunjukNya, tak berapa lama aku menunggu, aku mulai mendapat petunjuk, dan aku mendapatkan sebuah pencerahan, aku dapat menjawab semua pertanyaan dalam batinku, tak perlu ada kekecewaan lagi dalam hatiku, hanya yang dapat aku sampaikan tentang pencerahan itu di sini bahwa, ” kita adalah makhluk Tuhan yang sempurna, dan diberikan akal yang sehat untuk menuju kesempurnaan itu, serta tanggung jawab untuk mengunakannya, manusia pada hakekatnya hidup di dunia dalam keadaan bersih, kita yang menodainya, Tuhan hanya memberi petunjuk kepada jalan kebenaran, dan kita yang harus berusaha menuju kejalanNya, tak lepas kita hidup sebagai heteroseksual, bisexsual, atau homosexual, kita tidak dibenarkan menuruti hawa nasfu, hawa nafsu akan menjerumuskan kita ke jurang kehancuran hidup, dan karenanya kita tak akan mengerti arti hidup yang sebenarnya, sebab tanpa kita sadari hawa nafsu akan memberikan imbalan sejuta kenikmatan apabila kita menjadikan budaknya, dan untuk itu tidak ada pembenaran atas setiap kasus yang terjadi kepada kaum pecinta sejenis, walaupun dia sangat menderita karena hasrat sexualnya, dan menginginkan masyarakat memahami penderitaannya karena orientasi sexual yang berbeda, tidak akan ada pembenaran sedikitpun, Tuhan tak memberikan dispensasi atas kaum kita, bahkan melaknatnya, karena kita telah melakukan perbuatan keji, tapi sebaik-baiknya umat adalah yang mampu berjihad melawan hawa nafsunya tanpa kita harus melihat orientasi sexual sebagai alasan pembenaran, yang terbaik disisiNya hanya yang mampu melawan hawa nasfu itu sendiri, ” demikian pencerahan yang aku peroleh selama aku mencari petunjuk dari Nya, semoga Tuhan memberikan kekuatan bagi kita yang memutuskan berhijrah dari hawa nasfunya, dan Tuhan memberikan pertolongan karenanya, serta memberi petunjuk bagi kaum kami yang ingin mencari petunjuk dari-Nya. Semoga Tuhan meridhoinya, dan memaafkan kesalahan-kesalahan atas kaum kami yang telah mempertuhankan hawa nafsunya, sebaik-baiknya kaum adalah yang kembali ke fitrahnya dan kembali kejalan yang diridhoiNya. amin

Masa penuh dosa (5)

•Januari 26, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pernikahan, sebuah ikatan suci dalam mengarungi kehidupan berumah tangga, itu yang semula aku harapkan dalam kehidupanku, dengan berjalannya waktu, pernikahanku baik-baik saja, akupun dikaruniai seorang putri yang cantik, dan sangat aku sayangi, sampai dengan pada suatu masa dimana bayangan masa lalu hadir dalam kehidupan rumah tanggaku, walau aku telah beristri, dalam tidur lelapku, aku sering bermimpi bermain cinta dengan kakak kandungku, yang dulu pernah aku lakukan waktu dia terlelap tidup, begitu kuat mimpi itu datang berulang kali menghadiri malamku, hari-hariku dipenuhi dengan kegelisahan, ada keinginan yang mendalam untuk mengulangi semua itu, tapi kini aku telah berumah tangga, dan itu sangat beresiko dengan kebahagiaan keluargaku, akhirnya disaat yang tepat dan saat kami hanya duduk berdua dengan kakakku diteras rumahkeluarga besarku, aku berusaha memuali pembicaraan dengan kakakku, aku meminta maaf atas kejadian yang pernah aku lakukan dulu, ternyata kakakku telah memaafkanku sejak dari dulu, sempat terbesit tanya dalam hatiku, berarti dulu kakakku dalam keadaan tidurnya dia sadar aku telah melakukan perbuatan itu, dan aku menceritakan keadaanku saat ini, aku memohon kepada kakakku untuk sekali lagi melakukan perbuatan itu, karena aku tak kuat menahan gejolak nafsuku, dan mimpi yang belakangan ini selalu hadir sangat menyiksaku, kakakku menolak dengan lembut, dia menerima keadaanku, tapi dia tak ingin aku semakin terjerumus dalam kondisi itu, hubungan sejenis tak dibenarkan apalagi sedarah, hanya itu yang aku dapat tangkap dari kata-katanya, aku menerima dengan kekecewaan, sebenarnya aku berharap sekali kakakku mengabulkan permohonanku walau hanya sekali, aku menerima nasehatnya walau dengan kekecewaan, aku hanya bisa memendam nafsu yang mengelora di batinku, hari-hariku dipenuhi kekecewaan, sampai pada suatu saat aku mengenal dunia maya lewat internet, aku mulai mengenal kehidupan sex sejenis yang disuguhkan lewat media ini, kekecewaanku sedikit berkurang, hari demi hari aku lebih menguasai dunia maya ini terutama dengan kehidupan sejenis, sampai aku mengenal apa yang dinamakan chatting, awalnya aku hanya iseng, tapi dengan fasilitasnya aku dapat menyalurkan keinginanku untuk berbuat sex sejenis, pertemuan demi pertemuan dengan teman chatting aku lakukan, sex demi sex aku nikmati, banyak teman yang senasib aku dapatkan disini, handphoneku tak henti hentinya menjawab sms yang masuk, dari yang hanya mengajak untuk mengawali sebuah perkenalan sampai yang menginginkan sex sejenis, aku tak memperdulikan lagi keluargaku, istriku yang mulai curigapun tak kuhiraukan, sampai ada seseorang teman yang dekat menginap dirumahku, dan istriku melihat aku sedang berpelukan dengan seorang pemuda yang menginap dikamar yang lain, saat itu perasaanku hancur, kehancuran membayangi rumah tanggaku, istriku menangis dalam hari-hari itu, sampai akhirnya aku dapat memberi keyakinan bahwa itu yang terakhir dan aku takkan mengulanginya, keluarga besar kami tak mengetahui prahara rumah tangga kami, anakku yang saat itu berusia 2 tahun tak mengerti apa arti semua ini, hari-hari berikutnya berjalan dengan normal walau masih ada sedikit perasaan curiga setiap ada sms yang masuk ke hpku, tapi aku berusaha menjelaskannya dan memberi keyakinan kepadanya, walau aku sempat berniat untuk bertobat, tapi dorongan nafsu sejenis ini telah menjalar ke seluruh aliran darahku, seakan aku tak kuasa, aku mulai melakukan pertemuan demi pertemuan, sex demi sex , kembali seperti dulu, tak kuperdulikan seberapa besar dosa yang telah aku lakukan dengan menodai pernikahan kami, aku semakin menjadi, hubunganku sejenisku semakin menjadi dari oral sex sampai anal sex telah aku rengguk kenikmatannya, dari ras pribumi, arab, china, tak luput dari dekapanku, aku tak dapat menghitung lagi entah sudah berapa penis yang masuk kedalam mulutku, dan entah berapa batang kemaluan lelaki sudah memberikan kenikmatan pada lobang pelepasanku, yang ada pada fikiranku hanya kenikmatan, bahkan aku bersedia mengusakan pasangan untuk dinikmati teman-temanku, bahkan kami nikmati bersama-sama, sungguh dosa yang termaafkan…………………………….

masa remaja (4)

•Januari 24, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Masa remaja memang masa yang paling indah, dunia seakan di penuhi cinta, begitu juga aku, tak kurang setiap saat cinta menghampiriku, aku mudah jatuh cinta, baik kepada wanita maupun lelaki, kepada wanita banyak yang aku pacari, putus satu cari yang lain, dan kalo yang ga cantik, aku ga mau, sedangkan kepada lelaki, aku selalu jatuh cinta dengan setiap lelaki yang dekat denganku, apalagi dia tampan pasti aku mencintainya, dan tidak kepada satu lelaki saja aku jatuh cinta, sahabat yang aku anggap paling dekatpun tak luput dariku, walau hanya cinta sepihak, tapi aku menikmatinya, kadang ada perasaan cemburu bila dia dekat dengan teman lelaki lain, padahal dia anggap hubungan kami hanya pertemanan saja bukan hubungan cinta sejenis, tapi aku tetap setia mencintainya sampai sekarang, terkadang pada saat sahabatku mampir untuk menginap, maklum kebanyakan orang luar kota, pada malam hari, saat dia tertidur lelap karena lelah, aku berusaha menodai penisnya dengan mulutku, benarkan…..aku seorang sahabat yang keji…………………..maafkan aku sahabatku, hingga pada suatu saat menemukan cintaku, aku jatuh cinta kepada sahabatku yang lain, entah mengapa cintaku kepada dia begitu sangat mendalam, hingga menggoyahkan hidupku, saat dia pergi aku begitu kehilangan, seakan cinta sejatiku telah kutemukan, walau tanpa sex, aku begitu mendalam menyayanginya, padahal hubungan kami selalu dipenuhi pertengkaran karena perbedaan pendapat, tapi saat bersama dia aku seperti mati kutu, aku selalu bisa memaafkan kesalahannya, aku heran kenapa aku menemukan cinta sejatiku kepada teman sejenis, bukan kepada wanita yang seharusnya, apakah aku salah bila mencintai…..? sampai aku tak habis fikir ketika dia pulang ke kotanya, aku seperti kehilangan pegangan, semua kenangan saat bersama selalu terbayang, bila aku lalui jalan yang sering kami lewati bersama, hatiku sangat pedih, sampai aku dapat bangkit sendiri dalam penyadaranku yang butuh waktu lama, akhirnya aku memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita yang aku anggap baik, dan punya niat baik juga untuk berumah tangga, kami pun dikaruniai seorang putri buah hati kami, lambat laun rasa cinta kepadanya mulai terkikis, tapi kenangannya masih terbayang di mataku, dan biarlah kusimpan didalam hati dan aku lebih memilih bersama keluargaku.

Dosa Masa PraRemaja (3)

•Januari 22, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Aku memang lelaki pendosa, jangankan melakukan sex dengan teman sepermainan, dengan kakak kandungku pun pernah melakukannya, mungkin tak ada ampun bagiku melihat semua yang pernah aku lakukan, kejadian itu ketika aku duduk di bangku smp, waktu rumahku sepi, aku mendapati kakakku sedang tidur di kamar, aku mendekatinya dan berbaring disebelahnya, aku mulai membuka sarung yang dikenakannya, kemudian aku keluarkan penis kakakku dan aku mulai menghisapnya, anehnya kakakku tak bangun dari tertidur, mungkin karena lelapnya tidur atau karena merasakan kenikmatan, aku teruskan perbuatanku sampai akhirnya sperma kakakku muncrat di dadanya, kemudaian aku sembunyi di bawah kolong tempat tidur, untungnya kakakku tidak marah dan tidak pernah menyinggung perbuatannku, memang aku seorang adik yang keji dan hina, hawa nafsu telah membutakan hatiku……apakah Tuhan mau menerima semua kesalahanku…………………..semoga……..

Dosa masa Kecil (2)

•Januari 20, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mengapa aku hidup ke dunia, kalo hanya untuk berbuat dosa ? fikirku ketika membayangkan hidupku yang kelabu, bahkan sedari kecilpun aku telah berbuat dosa, usia masa kecil seharusnya aku hiasi dengan masa yang indah tanpa adanya dosa yang menodainya, tapi buatku masa kecil adalah masa awal aku berbuat dosa, sejak kelas sd aku telah melakukan perbuatan dosa, walau aku tak menyadari perbuatan dosa yang aku lakukan, awalnya aku dan tetanggaku bermain di halaman seperti halnya pramuka, kami berkemah, usia tetanggaku jauh lebih dewasa dariku, kami berkemah di halaman rumahku, pada malam harinya tak kusadari aku di minta untuk menghisap penis tetanggaku, dan aku melakukannya, tanpa mengerti apa arti perbuatan itu, itulah dosa pertama yang aku lakukan, sedangkan dosa lain yang aku lakukan adalah sejak sd aku telah mengenal “Onani”, dari sebelum sperma keluar dari batang kemaluanku karena usiaku yang belum baligh, sampai usia baligh telah terlewati dan aku telah dapat memproduksi sperma, bahkan pada usia smp pun aku sering mengajak teman-teman untuk melakukan “onani” bersama-sama, kami sering melakukan eksperimen dengan tekhniknya, betapa perbuatan dosa telah menghiasi hidupku dari masa kecilku, semoga Tuhan menghapuskan dosaku karena kebodohan dan kekejian yang pernah aku perbuat……..amin

Hidup Sebagai Pendosa (1)

•Januari 19, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Aku berdiri memandang hampa tanpa arti, kekhawatiran akan datangnya hidup setelah mati sangat merisaukanku, mungkinkah aku menjadi hamba yang kembali bersih sedangkan seluruh hidupku penuh dengan dosa, dan apakah Tuhan akan rela menghapus dosa-dosa keji yang pernah kulakukan, sedangkan catatan malaikat amal pun penuh dengan raport merah di akhirat nanti, terkadang sampai saat inipun aku tak sanggup melawan godaan nafsu yang membuatku hina, sebenarnya aku malu menjadi seorang pemimpin keluarga, aku ragu apakah aku akan membawa hidup keluargaku menuju sorga, sedang aku juga telah mendustai dan mengkhianati kepercayaan terhadap keluarga, pastaslah aku sebut diriku sebagai “LELAKI PENDOSA”

Usiaku kini memasuki kepala tiga, Aku hidup bersama istri dan buah hati kami yang sangat aku sayangi, di usiaku ini tak terhitung jumlah dosa yang pernah aku lakukan, seandainya nanti pengadilan akhirat menanyakan untuk apa anggota badan ini satu persatu digunakan, mungkin jawabannya adalah kemaksiatan yang selalu dilakukan, sebagai contoh, “wahai mulut, semasa didunia, apa yang kamu perbuat?” pertanyaan di pengadilan akhirat kelak, jawab mulut, ” wahai dzat yang menguasai mulut ini, semasa hidup di dunia hanya sedikit aku berbuat baik, semuanya yang aku perbuat hanya kemaksiatan,” pertanyaan berikut,”kemaksiatan apa yang telah kamu lakukan,”wahai dzat yang maha mengetahui, semasa kecil hingga aku aku mati, aku digunakan untuk menghisap penis,” mungkin pembaca akan tau apa yang akan terjadi, ganjaran apa yang akan aku terima, aku hanya berharap hal ini tak akan terjadi dan Tuhan memaafkan hambanya, dari tulisan ini aku berhara pembaca dapat mengambil hikmah dan biarlah hanya aku saja yang akan menanggung dosa ini di akhirat kelak, dalam kesempatan ini pula akan aku ceritakan satu persatu dosa yang pernah aku lakukan semasa kecil hingga sekarang, semoga Tuhan memberi petunjuk dan memaafkan apa yang pernah aku perbuat………….amin.